Pendidikan dianggap sebagai salah satu tonggak keberhasilan suatu bangsa, di mana pendidikan dijadikan kunci untuk memperoleh pengetahuan yang terarah. Dalam sejarah, perkembangan suatu masyarakat, keluarga, dan negara telah banyak ditentukan oleh peningkatan pendidikan. Pendidikan diakui sebagai salah satu aspek yang memiliki peranan penting dalam pembentukan kualitas generasi masa depan, serta berperan dalam pembangunan suatu negara. Oleh karena itu, sektor pendidikan seharusnya diperhatikan oleh pemerintah untuk meningkatkan mutu Sumber Daya Manusia di Indonesia, sesuai dengan tujuan yang tercantum dalam UUD 1945, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Hak atas pendidikan diberikan kepada setiap warga negara, dan mereka perlu dibekali dengan pendidikan agar mampu mengembangkan diri sesuai dengan perkembangan zaman. Mengingat pentingnya pendidikan di era globalisasi, motivasi yang kuat diperlukan oleh setiap individu untuk melanjutkan pendidikan.
Memasuki Tahun 2024 ini pendidikan adalah salah satu hal yang sangat penting untuk Indonesia Emas 2045. Langeveld Menurut Machali (2016), dinyatakan bahwa pendidikan merupakan setiap usaha, pengaruh, perlindungan, dan bantuan yang diberikan kepada anak dengan tujuan mengarahkan pendewasaan anak atau membantu anak agar mampu melaksanakan tugas hidupnya secara mandiri. Sementara itu, menurut Ki Hajar Dewantara (dalam Kurniadin, 2016), pendidikan diartikan sebagai tuntunan dalam proses pertumbuhan dan perkembangan hidup anak-anak.
Pendidikan memiliki tujuan utama untuk mencerdaskan kehidupan bangsa serta membentuk manusia secara utuh, yakni individu yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, sehat jasmani dan rohani, berkepribadian tangguh dan mandiri, serta memiliki tanggung jawab sosial terhadap masyarakat dan bangsa.
Di Indonesia, isu pendidikan kerap menjadi topik perbincangan di kalangan masyarakat. Namun, perhatian tersebut lebih banyak dipicu oleh kesadaran akan rendahnya mutu pendidikan nasional dan ketidakmerataannya, dibandingkan dengan pencapaian atau keunggulannya. Oleh karena itu, tema “Pendidikan untuk Semua Kalangan Masyarakat” diangkat untuk mendorong perubahan pola pikir masyarakat agar memiliki semangat belajar yang lebih tinggi, sekaligus meningkatkan kesadaran akan rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia. Di tengah kemajuan teknologi dan perubahan di era globalisasi, kesadaran ini semakin penting karena Indonesia berada di dunia yang terbuka, di mana masyarakat bebas membandingkan kondisi pendidikan dengan negara lain.
Saat ini, setelah membandingkan dengan negara lain, terlihat bahwa Indonesia masih tertinggal dalam hal mutu pendidikan. Oleh karena itu, upaya peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia menjadi sangat mendesak. Berdasarkan data per Maret 2023, mayoritas lulusan pendidikan berasal dari jenjang SMA atau yang sederajat, dengan persentase sebesar 30,22%. Posisi kedua ditempati oleh lulusan SD atau yang sederajat, yang mencapai 24,62%, diikuti oleh lulusan SMP atau sederajat sebesar 22,74%. Sementara itu, lulusan dari jenjang perguruan tinggi hanya mencapai 10,15% (databoks.katadata.co.id, 2023). Berikut data yang mendukung informasi tersebut.:

Faktor penyebab kalangan anak-anak maupun perumur remaja-dewasa tidak sekolah atau putus sekolah memang sangat kompleks dan bisa disebabkan oleh berbagai faktor. Salah satu faktor utama yang sering kali menjadi kendala adalah faktor ekonomi. Mengapa faktor ekonomi masih menjadi kendala utama dalam hal pendidikan? Terdapat beberapa alasan yang menjelaskan mengapa hal ini terjadi.
Pertama, akses terhadap fasilitas pendidikan berkualitas di Indonesia masih belum tersebar secara merata. Beberapa wilayah, terutama daerah pedalaman atau pelosok, menghadapi kesulitan untuk dijangkau. Hambatan ini sering diperparah oleh keterbatasan sarana transportasi dan tingginya biaya perjalanan, yang membuat anak-anak di wilayah tersebut sulit memperoleh pendidikan yang memadai.
Kedua, biaya pendidikan yang juga relatif mahal dan terkadang terdapat pungutan liar (oknum) di sekolah. Beban biaya pendidikan, seperti biaya pendaftaran, uang sekolah, dan buku-buku, bisa menjadi beban yang tidak terjangkau bagi keluarga kurang mampu. Selain itu, adanya pungutan liar yang tidak sesuai dengan ketentuan atau regulasi yang berlaku di sekolah juga dapat menyulitkan anak-anak untuk melanjutkan pendidikan. Belum lagi tuntutan untuk membayar kas kelas, ekstrakurikuler, organisasi, dan lainnya.
Ketiga, kurangnya persiapan keluarga atau orang tua dalam perencanaan pendidikan anak pun juga menjadi faktor penyebab putus sekolah. Minimnya pendidikan orang tua atau kurangnya pengetahuan mengenai pentingnya pendidikan dapat berdampak pada kesadaran dan prioritas mereka dalam mengirim anak-anak mereka ke sekolah.
Keempat, kesenjangan ekonomi yang berakar dari sistem kapitalisme juga menjadi faktor penting yang mempengaruhi akses pendidikan. Kesenjangan ekonomi yang semakin membesar menyebabkan terjadinya kesenjangan sosial ekonomi dalam masyarakat. Keluarga yang berada dalam kondisi ekonomi lemah seringkali kesulitan dalam memenuhi kebutuhan dasar, termasuk biaya pendidikan anak. Hal ini menyebabkan anak-anak dari keluarga kurang mampu menjadi lebih rentan terhadap putus sekolah.
Kelima, terbatasnya akses beasiswa untuk anak-anak perdesaan. Tidak dapat dipungkiri bahwa beasiswa pendidikan banyak beredar di daerah perkotaan saja, karena pelajar perkotaan lebih melek dengan beasiswa ketimbang pelajar perdesaan. Padahal, pada umumnya yang lebih membutuhkan beasiswa adalah para pelajar yang tinggal di perdesaan. Permasalahan ini jarang sekali dibahas, karena memberikan beasiswa itu belum lah cukup untuk menjamin anak tidak putus sekolah. Melainkan, juga harus memastikan beasiswa tepat sasaran kepada orang yang membutuhkan.

Biaya pendidikan yang tinggi masih menjadi salah satu kendala utama dalam pemerataan pendidikan di Indonesia. Sebagai langkah untuk mengatasinya, pemerintah menyediakan program beasiswa dan bantuan pendidikan yang ditujukan bagi siswa berprestasi atau dari keluarga kurang mampu secara finansial. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), penerima beasiswa atau bantuan pendidikan menunjukkan tren peningkatan dalam satu dekade terakhir, dari 3,89% pada tahun 2009 menjadi 20,14% pada tahun 2021. Peningkatan paling signifikan terjadi antara tahun 2015 hingga 2018, dengan persentase penerima beasiswa pada tahun 2018 mencapai 20,28%, hampir dua kali lipat dibandingkan tahun 2015 yang sebesar 10,95% (databoks.katadata.co.id, 2022; 2023).
Selain beasiswa, langkah lain yang dapat diambil adalah memanfaatkan zakat, infak, dan sedekah untuk mendukung program pendidikan, seperti pemberian bantuan pendidikan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu. Pembangunan fasilitas pendidikan di wilayah pelosok juga sangat diperlukan untuk mengurangi kesenjangan akses pendidikan. Program bantuan biaya tunggakan sekolah oleh lembaga pemerintah maupun non-pemerintah juga menjadi salah satu solusi efektif untuk membantu anak-anak yang putus sekolah akibat keterbatasan ekonomi.
Namun, tantangan pendidikan di Indonesia tidak hanya terkait faktor ekonomi. Masalah sosial, budaya, dan mutu pendidikan juga turut berkontribusi terhadap rendahnya akses dan kualitas pendidikan. Salah satu penyebabnya adalah kurangnya pendidikan karakter di sekolah, yang mengakibatkan perilaku tidak bermoral seperti korupsi, meskipun banyak pejabat memiliki kemampuan intelektual yang tinggi. Pendidikan karakter berperan penting dalam membangun moral peserta didik agar tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki akhlak yang baik.
Rendahnya kualitas pendidikan juga disebabkan oleh ketidaksesuaian kompetensi pengajar dengan mata pelajaran yang diajarkan. Beberapa guru mengajar di bidang yang tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan mereka, seperti seorang guru berlatar belakang kimia yang ditugaskan mengajar seni. Kondisi ini mencerminkan tantangan nyata di lapangan yang memengaruhi kualitas pembelajaran.
Di era globalisasi, peningkatan kualitas pendidikan menjadi tuntutan bagi Indonesia agar mampu bersaing di tingkat internasional. Dengan pemerataan akses pendidikan dan perbaikan mutu pengajaran, diharapkan Indonesia dapat mencetak generasi berkualitas yang siap menghadapi tantangan global, sekaligus mewujudkan visi Indonesia Emas 2045. Sebagai generasi penerus, pemuda Indonesia diharapkan terus termotivasi untuk belajar dan berkontribusi dalam membawa perubahan positif bagi masa depan bangsa.
Pendidikan memainkan peran penting dalam membangun kualitas individu dan bangsa. Namun, Indonesia menghadapi berbagai tantangan dalam meningkatkan mutu dan pemerataan pendidikan. Beberapa kendala utama yang diidentifikasi adalah ketidakmerataan akses fasilitas pendidikan, biaya pendidikan yang tinggi, kurangnya perencanaan keluarga terhadap pendidikan anak, kesenjangan ekonomi, dan distribusi beasiswa yang belum merata. Faktor-faktor tersebut memperbesar risiko anak-anak putus sekolah, terutama di kalangan keluarga kurang mampu. Selain itu, pendidikan karakter yang kurang menjadi salah satu penyebab kurangnya integritas pada pejabat yang cerdas tetapi tidak berakhlak.
Sebagai langkah solusi, pemerintah dan masyarakat perlu bekerja sama untuk mengurangi kesenjangan pendidikan dengan berbagai program seperti zakat, infak, dan sedekah, serta pengembangan infrastruktur pendidikan di daerah terpencil. Peningkatan kualitas guru juga harus menjadi prioritas untuk memastikan pendidikan yang lebih baik dan relevan dengan kebutuhan zaman. Pendidikan di Indonesia perlu ditingkatkan agar mampu bersaing di kancah internasional dan mewujudkan cita-cita Indonesia Emas 2045. Oleh karena itu, peran generasi muda sebagai motor perubahan sangat dibutuhkan untuk menghadirkan sistem pendidikan yang lebih adil dan bermutu.
Penulis : Abu Bakar Al Juhari dan Miftahuddin (Mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya)