April 5, 2025

Barbie Tunanetra: Langkah Inklusif Mattel dalam Dunia Mainan

Wartainsight.com-Enam dekade setelah Barbie pertama kali diperkenalkan ke pasaran, Mattel meluncurkan boneka Barbie tunanetra pertamanya dalam upaya untuk membuat koleksi mereka lebih inklusif.

Perusahaan mainan asal Amerika Serikat ini menjelaskan bahwa boneka yang dilengkapi dengan tongkat penuntun tersebut dirancang untuk mewakili anak-anak dengan penurunan penglihatan dan tunanetra dalam masyarakat.

“Barbie lebih dari sekadar boneka; dia adalah representasi ekspresi diri dan dapat menciptakan rasa memiliki,” kata Wakil Presiden Senior Barbie dan Kepala Boneka Global Mattel, Krista Berger, seperti dikutip oleh The Guardian pada Selasa (23/7).

Mattel bekerja sama dengan American Foundation for the Blind untuk memastikan bahwa semua aspek boneka tersebut, mulai dari mata hingga pakaiannya, secara akurat menggambarkan orang yang mengalami kebutaan dan penurunan penglihatan.

Boneka Barbie tunanetra ini memegang tongkat putih dan merah dengan ujung seperti marshmallow, dan tatapan matanya sedikit mengarah ke atas untuk menggambarkan pandangan individu yang mengalami kebutaan.

Setelah berkonsultasi dengan anak-anak tunanetra, perusahaan memutuskan untuk membuat boneka dengan pakaian berbahan kain taktil, termasuk kaus satin merah muda dan rok tule ungu.

Detail seperti pengikat melingkar di bagian belakang atasan boneka dan karet pinggang pada rok dirancang untuk memudahkan pengenaan pakaian pada boneka.

Kemasan boneka ini juga lebih mudah diakses, dengan tulisan “Barbie” dalam huruf Braille pada bagian depan kotak.

Lucy Edwards, seorang aktivis dan penyiar tunanetra yang tampil dalam kampanye dengan Barbie baru ini, mengatakan bahwa peluncuran boneka ini sangat berarti baginya.

“Sebagai remaja, saya merasa terasing karena kehilangan penglihatan dan tidak memiliki panutan yang seperti saya. Saya malu dengan tongkat saya, tetapi mengetahui bahwa Barbie juga punya tongkat membuat saya merasa berbeda dan membantu saya merasa tidak terlalu sendiri dalam menerima dan merangkul kebutaan saya,” katanya.

Debbie Miller, direktur saran dan dukungan pelanggan Royal National Institute of Blind People di Inggris, juga senang mengetahui bahwa anak-anak yang buta dan mengalami penurunan penglihatan kini bisa bermain dengan Barbie yang seperti mereka.

“Kami senang dengan detail desain pada Barbie yang baru—pakaian taktil serta tongkat dan kacamata. Ini adalah pengakuan bahwa tidak semua orang dapat melihat dengan baik, yang sangat berarti bagi komunitas tunanetra dan tunanetra parsial,” katanya.

Selain meluncurkan Barbie tunanetra, Mattel juga bermitra dengan National Down Syndrome Society di Amerika Serikat untuk meluncurkan boneka berkulit hitam dengan down syndrome, menyusul peluncuran boneka berkulit putih dengan kondisi serupa tahun lalu.

Scroll to Top